Skip to main content

Kepala

Sepertinya saya tahu kenapa pria disebut kepala rumah tangga.....

Karena perempuan secara genital tercipta tidak lengkap. Ada satu yang kurang darinya. 

KEPALA

Dia tidak punya kepala

Jadi dia butuh kepala untuk melengkapi dirinya, mengisi "CERUK" kekurangannya, menyempurnakannya. 

Sejak semula dia memang hanya bulat telur, sampai datang kepala dengan berenang-renang, lalu dia menjelma seorang perempuan cantik

Setelah lahir dia tetap tidak memiliki satu kepala lainnya, pada saat lawan jenisnya lengkap dengan dua kepala.

Hidup dengan satu kepala tentu tidak mudah. Belum lagi tubuhnya secara naluriah akan menuntut kepala kedua.

Dia bisa dipermainkan kehidupan. Tergilir kesana kemari. Hidup tanpa arah tujuan. Menjadi objekan saja. Dieksploitasi "CERUK" kekurangannya oleh lawan jenis atau mengeksploitasinya sendiri.

Maka dia harus DIKEPALAI

Kepala yang tidak hanya berfungsi mengisi "CERUK" kekurangannya saja, melainkan sekaligus menjadi imam yang melindunginya dalam sebuah rumah tangga, menggandengnya ke jalan hidup yang mulia, imam yang menuntunnya ke masa depan (akhirat).

Entah berkelindan atau tidak, tapi konteks "KETIDAKLENGKAPAN KEPALA" ini juga barangkali jawaban tentang mengapa:

Wanita butuh dipikirkan

Wanita ingin dimengerti

Tidak tahu minta maaf

Bila salah, itu bukan salah dia

Dan bisa jadi lantaran itulah lelaki diperlengkapi dengan dua kepala untuk menghadapi wanita. (*)

Comments

Popular posts from this blog

Katimboka: Layangan Pertama di Dunia

Peneliti layang-layang asal Jerman, Wolfgang Bieck, saat memulai penelusurannya pada 1997 mendapati semua literatur menunjuk Cina rumah kelahiran layang-layang dunia. Mengambil tonggak 2800 tahun lalu Cina telah menerbangkan layangan terbuat dari sutra dan bambu emas sebagai bingkainya. Penggalian lebih jauh mempertemukan Wolfgang dengan layang-layang di Asia Tenggara yang lebih primitif. Terbuat dari daun. Baca Juga: Raja Festival Layangan Internasional Itu Bernama Kolope Persepsinya mengenai layang-layang terdamprat. Dari situ dia mulai membuka jalur baru pemetaan asal muasal layang-layang, menggunakan pendekatan teori evolusi. Wolfgang Bieck mengungkapkan hal ini kepada penulis, saat Festival Layang-Layang Internasional 2006 yang diselenggarakan di Kabupaten Muna, satu pulau kecil di Indonesia. Ia menaruh purbasangka, layang-layang sutra hanya mata rantai berikut dari evolusi layang-layang, suatu pengembangan dari layang-layang daun. Persoalannya sekarang, di Asia Tenggara teru...

Sketsa 80-an: Karanu

Di Raha, pohon buah-buahan tahun 80-an itu unik. Pohon terdiri atas akar, batang, dahan, ranting, daun, buah, dan botol.  Ya botol. Botol kaca. Biasanya botol Lemonade, 7up, Beras Kencur, kadang juga botol bir hitam, jenever. Keberadaan botol di sini tentu tidak alamiah, melainkan sengaja digantung oleh pemiliknya. Namanya karanu. Penangkal pencuri. Tidak banyak lahan punya pagar. Lagi pula kejahilan tidak bisa dihentikan oleh pagar. Jadi orang melindungi asetnya dengan karanu. Karanu berisi air yang sudah dimantra-mantrai dengan kutukan.  Kutukannya macam-macam. Mulai dari penyakit kuning, gatal-gatal, bengkak perut seperti ikan buntal atau disebut karanu buntuti.  Ada juga yang bikin pelaku maunya mencuri terus, dan terus, sampai ditangkap polisi baru puas. Kadang ada juga botol yang digantung hanya untuk menakut-nakuti saja. Tidak ada karanunya. Jadi kalau ketemu pohon yang ada botolnya, itu artinya empunya melarang buahnya diganggu. Mengerti sendiri saja. Entah benar ...

Lakilaponto Raja di Dua Negeri

Lakilaponto adalah anak ke-8 Raja Muna Sugi Manuru. Mereka bersaudara sebanyak 14 orang, 2 di antaranya perempuan. Pada saat Sugi Manuru turun tahta, mahkota kerajaan diberikan kepada Lakilaponto. Lakilaponto di Kerajaan Muna digelar Mepokanudaghono Ghoera atau yang memimpin di dua negeri. Ia diangkat jadi Raja Muna dan kemudian menjadi raja di Kerajaan Buton. Pengangkatan Lakilaponto menjadi Raja Buton ada sejarahnya. Dipetik dari buku Sejarah Kebudayaan Kerajaan Muna; Jules Couvreur dikisahkan , pada waktu itu Buton selalu diganggu olah bajak laut bernama La Bolontio yang tinggal di Kepulauan Banggai. Ia amat ditakuti karena kuat dan ganas. Punya mata tiga. Penduduk Buton sudah putus asa dan akhirnya meminta bantuan dari semua suku di sekitarnya. Dijanjikan bilamana ada yang dapat menyelamatkan mereka dari keganasan La Bolontio serta membunuhnya, ia akan diangkat menjadi Lakina Wolio, gelar untuk Raja Buton. Berangkatlah Lakilaponto dan berhasil mengalahkan La Bolontio. Ia pun diang...