Skip to main content

Sketsa 80-an: Cinta Monyet

Remaja 80-an kalau baku ser (pacaran), mereka tidak ingin sekali diketahui orang lain.

Ada rasa malu. Bakal jadi objek candaan teman-temanya atau dilaporkan pada orang tuanya. Kejadian diomeli habis-habisan di rumah.

Tempo itu orang tua sangat dihormati dan disegani dan pacaran dianggap tabu bila masih duduk di bangku sekolahan. Masih hijau, katanya. Masih bau kencur.

Bahkan sekadar dijodoh-jodohkan saja, waktu itu orang merasa risih.

Apabila dia tidak sreg terhadap sosok yang dipasang-pasangkan kepadanya, biasanya dia menolak dengan cara marah.

Marah adalah cara terpercaya untuk membantah.

Dan, bila orang yang dimaksud ternyata dia sukai, dia juga murka, tapi sambil membasah-basahi bibirnya.

Mereka tidak ingin perasaan hatinya mudah terbaca. Prinsipnya seperti syair lagu Iwan Fals, penyanyi idola zaman itu: "Cinta Ini Milik Kita".

Kalau di tempat umum mereka seperti tidak saling kenal. Walau di penglihatan orang-orang, mereka kerap tertangkap basah saling curi pandang mesra.

Di depan orang mereka tidak saling bertegur sapa, tapi di rumah surat cinta penuh laci meja belajar.

Dalam surat, kalimatnya berapi-api, penuh kata mutiara. Paling sedikit 3 lembar kertas Harvest motif bunga-bunga merah jambu. Giliran ketemu berdua, untung-untung 3 kata kelar. Lebih banyak gulung-gulung ujung baju di jari telunjuk kerjanya.

Sebentar malam di atas kertas baru ketahuan apa isi di hati masing-masing, yang tak sempat terucap tadi siang.

Dengan catatan kaki:

"Empat kali empat, enam belas.

Sempat tak sempat harap dibalas." (*)

Bersambung ke edisi Sketsa 80-an: PHB

Sebelumnya:

Sketsa 80-an: RAHA Sekilas


Comments

Popular posts from this blog

Katimboka: Layangan Pertama di Dunia

Peneliti layang-layang asal Jerman, Wolfgang Bieck, saat memulai penelusurannya pada 1997 mendapati semua literatur menunjuk Cina rumah kelahiran layang-layang dunia. Mengambil tonggak 2800 tahun lalu Cina telah menerbangkan layangan terbuat dari sutra dan bambu emas sebagai bingkainya. Penggalian lebih jauh mempertemukan Wolfgang dengan layang-layang di Asia Tenggara yang lebih primitif. Terbuat dari daun. Baca Juga: Raja Festival Layangan Internasional Itu Bernama Kolope Persepsinya mengenai layang-layang terdamprat. Dari situ dia mulai membuka jalur baru pemetaan asal muasal layang-layang, menggunakan pendekatan teori evolusi. Wolfgang Bieck mengungkapkan hal ini kepada penulis, saat Festival Layang-Layang Internasional 2006 yang diselenggarakan di Kabupaten Muna, satu pulau kecil di Indonesia. Ia menaruh purbasangka, layang-layang sutra hanya mata rantai berikut dari evolusi layang-layang, suatu pengembangan dari layang-layang daun. Persoalannya sekarang, di Asia Tenggara teru...

Omputo

Setelah Sugi Manuru, penyematan "sugi" untuk pemimpin tidak lagi dipakai. Anaknya, Lakilaponto, penerus kepemimpinan berikut, memakai istilah berbeda. Lakilaponto, raja yang pertama bergelar "omputo" artinya "Yang Dipertuan". Lakilaponto dii Muna bernama La Tolalaka, di Buton dipanggil Murhum, di Kerjaan Laiwoi bernama Lakilaponto. Ia orang pertama yang dipilih oleh dewan, yaitu keempat kamokula dan keempat mino. Ketua dewan dari keempat kamokula dan keempat mino adalah Kamokula Tongkuno. Beberapa waktu setelah menjadi Omputo Muna, ia diangkat menjadi Lakina Wolio. Jules Couvreur, seorang Belanda, dalam penelusurannya hingga melahirkan buku "Sejarah Kebudayaan dan Kerahaan Muna" mencatat Lakilaponto juga pernah memerintah Kerajaan Laiwoi. (*) Baca Juga Sugi Omputo Kino Wuna Kapitalao

Sketsa 80-an: Musik

Seniman tahun 80-an menyuguhkan kami segala jenis musik. Mulai dari seriosa, keroncong, gambus, pop, rock, dangdut, disko, jazz, bosas, blues, country, rege, balada, sampai kasidah. Semua genre itu ada artis-artisnyanya tersendiri. Kami jadi kenal jenis-jenis musik di dunia dan percampurannya. Telinga kami kaya dengan warna-warni aliran musik.  Tidak ada di zaman kami, karena pop laris manis lalu semua artis main di pop.  Tetapi masing-masing dengan warna musiknya berusaha memikat telinga pemirsa sekuat tenaga. Jadilah mereka punya penikmat setianya sendiri-sendiri. Bila kamu berjalan-jalan keliling kota tahun 80-an, kamu akan menemukan rumah ini putar lagu ini, rumah itu putar lagu itu, tidak semua rumah terdengar nyanyian yang sama.  Sesuai selera masing-masing saja. Tiap orang memutar lagu populer dari aliran musik kegemarannya yang rilis pada saat itu. Walau memang tidak kaku seperti satu orang satu genre. Ada orang yang menyukai beberapa aliran musik, namun ada satu ...