Skip to main content

Khianat Triumvirat

Rakyat kini sendirian. Ini bukan fitrahnya. Secara alamiah dia berdua tanah air. Hanya berdua, pada awalnya. 

Interaksi antara keduanya melahirkan pemerintah. Bertiga, jadilah sebuah negara.

Agak ke sini, negara hanya cinta tanah air. Dipakai untuk memodali hegemoni kekuasaan. Kekuasaan untuk membangun ketahanan negara dari ekspansi serta keterbelakangan setelah trauma penjajahan.

Semakin ke sini, negara hanya cinta kekuasaan. Tanah air dijadikan objekan, rakyat dianggap ancaman, sementara potensial lawan diajak berteman.

Sejak pemerintah berselingkuh dengan investor, negara jadi distributor, rakyat jadi pasar. 

Distributor produk-produk luar negeri, dari negara-negara kreditor. Supaya terdengar eksekutif style mereka namakan impor.

Rakyat hanya jadi objek pajak untuk mengisi APBN, yang dipakai untuk menyelenggarakan kenyamanan investor.

Lalu, perlahan-lahan taipan mengambil alih tanah air, menguasai kekuasaan. 

Tanpa tanah air, rakyat tak bisa bertani dan beternak. Menjadilah ia kuli paksa di perusahaan-perusahaan swasta yang juga pemerintah. 

Atau mendaftar jadi pegawai negeri di kantor-kantor pemerintah yang juga swasta.

Batas pengertian negeri dan swasta jadi kabur.

Penanda tibanya masa itu adalah ketika pemerintah dikritik, swasta ikut mendelik. Saat swasta dipersoalkan, pemerintah turut senewen.

Rakyat dijauhkan dari negara, diputuskan dari tanah airnya. Tugasnya hanya kerja, kerja, kerja. Supaya bisa beli, beli, beli dan setor, setor, setor. (*)

Comments

Popular posts from this blog

Katimboka: Layangan Pertama di Dunia

Peneliti layang-layang asal Jerman, Wolfgang Bieck, saat memulai penelusurannya pada 1997 mendapati semua literatur menunjuk Cina rumah kelahiran layang-layang dunia. Mengambil tonggak 2800 tahun lalu Cina telah menerbangkan layangan terbuat dari sutra dan bambu emas sebagai bingkainya. Penggalian lebih jauh mempertemukan Wolfgang dengan layang-layang di Asia Tenggara yang lebih primitif. Terbuat dari daun. Baca Juga: Raja Festival Layangan Internasional Itu Bernama Kolope Persepsinya mengenai layang-layang terdamprat. Dari situ dia mulai membuka jalur baru pemetaan asal muasal layang-layang, menggunakan pendekatan teori evolusi. Wolfgang Bieck mengungkapkan hal ini kepada penulis, saat Festival Layang-Layang Internasional 2006 yang diselenggarakan di Kabupaten Muna, satu pulau kecil di Indonesia. Ia menaruh purbasangka, layang-layang sutra hanya mata rantai berikut dari evolusi layang-layang, suatu pengembangan dari layang-layang daun. Persoalannya sekarang, di Asia Tenggara teru...

Omputo

Setelah Sugi Manuru, penyematan "sugi" untuk pemimpin tidak lagi dipakai. Anaknya, Lakilaponto, penerus kepemimpinan berikut, memakai istilah berbeda. Lakilaponto, raja yang pertama bergelar "omputo" artinya "Yang Dipertuan". Lakilaponto dii Muna bernama La Tolalaka, di Buton dipanggil Murhum, di Kerjaan Laiwoi bernama Lakilaponto. Ia orang pertama yang dipilih oleh dewan, yaitu keempat kamokula dan keempat mino. Ketua dewan dari keempat kamokula dan keempat mino adalah Kamokula Tongkuno. Beberapa waktu setelah menjadi Omputo Muna, ia diangkat menjadi Lakina Wolio. Jules Couvreur, seorang Belanda, dalam penelusurannya hingga melahirkan buku "Sejarah Kebudayaan dan Kerahaan Muna" mencatat Lakilaponto juga pernah memerintah Kerajaan Laiwoi. (*) Baca Juga Sugi Omputo Kino Wuna Kapitalao

Sketsa 80-an: Musik

Seniman tahun 80-an menyuguhkan kami segala jenis musik. Mulai dari seriosa, keroncong, gambus, pop, rock, dangdut, disko, jazz, bosas, blues, country, rege, balada, sampai kasidah. Semua genre itu ada artis-artisnyanya tersendiri. Kami jadi kenal jenis-jenis musik di dunia dan percampurannya. Telinga kami kaya dengan warna-warni aliran musik.  Tidak ada di zaman kami, karena pop laris manis lalu semua artis main di pop.  Tetapi masing-masing dengan warna musiknya berusaha memikat telinga pemirsa sekuat tenaga. Jadilah mereka punya penikmat setianya sendiri-sendiri. Bila kamu berjalan-jalan keliling kota tahun 80-an, kamu akan menemukan rumah ini putar lagu ini, rumah itu putar lagu itu, tidak semua rumah terdengar nyanyian yang sama.  Sesuai selera masing-masing saja. Tiap orang memutar lagu populer dari aliran musik kegemarannya yang rilis pada saat itu. Walau memang tidak kaku seperti satu orang satu genre. Ada orang yang menyukai beberapa aliran musik, namun ada satu ...