Skip to main content

Bukan Malas...

 Sering sekali terdengar dari mulut penjajah dan orang asing yang menjadi kaya setelah tinggal di negeri ini, padahal mereka awalnya datang sebagai kuli paksa zaman Belanda, mereka mengatakan seperti ini.

"Orang Indonesia pemalas. Padahal tanahnya luas, kekayaan alamnya melimpah, hutannya hijau terhampar."

Dan pedihnya, anak negeri yang punya sedikit kuasa juga ikut-ikutan menggunakan narasi itu, agar terlihat tinggi dan untuk melarikan kegagalannya mengelola negara.

Sebenarnya BUKAN MALAS, hanya TIDAK RAKUS.

Penduduk tradisional mengelola alam dengan arif bijaksana, tidak asal makan. Dan mereka tidak menumpuk harta secara serakah untuk dibawa dalam kubur serta diwariskan tujuh turunan.

Mereka ini asal bisa hidup sampai musim tanam berikutnya sudah cukup. Memang tidak tampak kaya dalam standar Barat, tapi sejahtera tidak mesti gedung.

Mereka meniti hidup dengan norma, bukan dengan segala cara. 

Itulah mengapa alamnya hijau lestari berabad-abad lamanya, lingkungan hidup seimbang. Sungainya jernih tempat bermain burung margasatwa. Kehidupannya tenang, lingkungannya asri.

Sampai saat datang para pebisnis rakus, merampok hutan secara besar-besaran, menjarah kekayaan alam, menyuap pejabat lokal bermental korup. 

Kemudian setelah memiskinkan penduduk sekitarnya, sambil mengelus perut buncitnya mereka berujar, "Bagaimana mau sejahtera kalau malas".

Padahal andaikata penduduk asli berpemikiran serupa mereka, apa mereka sangka ada yang tersisa buat mereka gasak hari ini? 

Maaf, BUKAN MALAS, hanya TIDAK RAKUS. (*)

Comments

Popular posts from this blog

Katimboka: Layangan Pertama di Dunia

Peneliti layang-layang asal Jerman, Wolfgang Bieck, saat memulai penelusurannya pada 1997 mendapati semua literatur menunjuk Cina rumah kelahiran layang-layang dunia. Mengambil tonggak 2800 tahun lalu Cina telah menerbangkan layangan terbuat dari sutra dan bambu emas sebagai bingkainya. Penggalian lebih jauh mempertemukan Wolfgang dengan layang-layang di Asia Tenggara yang lebih primitif. Terbuat dari daun. Baca Juga: Raja Festival Layangan Internasional Itu Bernama Kolope Persepsinya mengenai layang-layang terdamprat. Dari situ dia mulai membuka jalur baru pemetaan asal muasal layang-layang, menggunakan pendekatan teori evolusi. Wolfgang Bieck mengungkapkan hal ini kepada penulis, saat Festival Layang-Layang Internasional 2006 yang diselenggarakan di Kabupaten Muna, satu pulau kecil di Indonesia. Ia menaruh purbasangka, layang-layang sutra hanya mata rantai berikut dari evolusi layang-layang, suatu pengembangan dari layang-layang daun. Persoalannya sekarang, di Asia Tenggara teru...

Sketsa 80-an: Karanu

Di Raha, pohon buah-buahan tahun 80-an itu unik. Pohon terdiri atas akar, batang, dahan, ranting, daun, buah, dan botol.  Ya botol. Botol kaca. Biasanya botol Lemonade, 7up, Beras Kencur, kadang juga botol bir hitam, jenever. Keberadaan botol di sini tentu tidak alamiah, melainkan sengaja digantung oleh pemiliknya. Namanya karanu. Penangkal pencuri. Tidak banyak lahan punya pagar. Lagi pula kejahilan tidak bisa dihentikan oleh pagar. Jadi orang melindungi asetnya dengan karanu. Karanu berisi air yang sudah dimantra-mantrai dengan kutukan.  Kutukannya macam-macam. Mulai dari penyakit kuning, gatal-gatal, bengkak perut seperti ikan buntal atau disebut karanu buntuti.  Ada juga yang bikin pelaku maunya mencuri terus, dan terus, sampai ditangkap polisi baru puas. Kadang ada juga botol yang digantung hanya untuk menakut-nakuti saja. Tidak ada karanunya. Jadi kalau ketemu pohon yang ada botolnya, itu artinya empunya melarang buahnya diganggu. Mengerti sendiri saja. Entah benar ...

Sketsa 80-an: Pasar Lama

Pasar lama berdiri di lokasi yang sekarang Alun-Alun Raha. Seluas itu juga. Berbagi tempat dengan terminal dan pusat kuliner.  Tahun 80-an itu persis di tepi pantai. Sejumlah proyek reklamasi membuatnya sekarang jadi lebih jauh ke dalam. Wajah Pasar Lama Ramai anak sekolahan mejeng sambil menunggu mobil di terminal pada jam-jam pulang.  Sekolah dulu terbatas sehingga banyak tetangga kota turun sekolah di Raha, pulang balik naik mikrolet. Belum ada ojek. Semua bertemu di satu titik, pasar lama. Pasar dulu punya pelataran yang luas, ada tiang bendera seperti yang biasa berdiri di halaman sekolah. Pelataran itu tempat "penjual obat" beratraksi dengan sulap-sulapnya yang memukau. Bakar kertas jadi uang.  Ada Latando perform bersama ularnya. Ada Kamran pamer keampuhan obat sakit giginya, Mustari jualan obat gosok minyak serai, dan Mr Jack menawarkan obat kuat, serta banyak lagi. Selain penjual obat, di pelataran menyelip penjual es sirop gerobak, geroncong, kadang juga ada hal...