Skip to main content

Insan Pemalas

Setiap orang punya sifat malas. Tapi ada alasan logis mengapa manusia berbakat jadi pemalas dan senang bermalas-malasan.

Pemalas maunya berleha-leha saja sepanjang waktu dan pada saat yang sama memiliki segala-galanya. Mobil mewah, rumah megah, uang segudang, dikelilingi dayang-dayang yang siap melayani kebutuhannya, dan apa yang dia ingini tinggal bilang.

Rasa malas tampaknya sifat dasar manusia, sama alamiahnya seperti rasa lapar.

Manusia akan melakukan apa saja untuk memuaskan sifat malasnya.

Maka ada orang yang bekerja keras hampir sepanjang hidupnya agar kelak bisa bermalas-malasan di hari tua.

Mengumpul uang sebanyak-banyaknya supaya bisa setiap saat membiayai kebutuhan sifat malasnya.

Kenyataan bahwa manusia pada dasarnya pemalas, sepertinya sengaja dicipta demikian.

Ya, itu karena manusia memang didesain sebagai penghuni surga.

Lantaran satu dan lain hal, manusia terusir dari surga dan tinggal di dunia, yang mana sekarang apa saja harus diupayakan terlebih dahulu sebelum mendapatkannya. Mesti berkeringat.

Makanya dia di dunia sedikit-sedikit lelah, sedikit-sedikit sakit, sedikit-sedikit stres, dan bahkan hal-hal sepele bisa membuat nyawanya terlepas. Bukannya dia rapuh tapi dunia tidak kompatibel untuk dia.

Begitulah, manusia tidak didesain untuk hidup di dunia. Keberadaan manusia di dunia tidak sesuai peruntukannya. Sama halnya city car dipakai offroad. Akan ada banyak "ketidaknyamanan" dalam perjalanan.

Dan karena manusia didesain untuk hidup di surga, itulah mengapa manusia di sana tiada susahnya, tidak mengenal sakit, tiada matinya. (*)

Comments

Popular posts from this blog

Katimboka: Layangan Pertama di Dunia

Peneliti layang-layang asal Jerman, Wolfgang Bieck, saat memulai penelusurannya pada 1997 mendapati semua literatur menunjuk Cina rumah kelahiran layang-layang dunia. Mengambil tonggak 2800 tahun lalu Cina telah menerbangkan layangan terbuat dari sutra dan bambu emas sebagai bingkainya. Penggalian lebih jauh mempertemukan Wolfgang dengan layang-layang di Asia Tenggara yang lebih primitif. Terbuat dari daun. Baca Juga: Raja Festival Layangan Internasional Itu Bernama Kolope Persepsinya mengenai layang-layang terdamprat. Dari situ dia mulai membuka jalur baru pemetaan asal muasal layang-layang, menggunakan pendekatan teori evolusi. Wolfgang Bieck mengungkapkan hal ini kepada penulis, saat Festival Layang-Layang Internasional 2006 yang diselenggarakan di Kabupaten Muna, satu pulau kecil di Indonesia. Ia menaruh purbasangka, layang-layang sutra hanya mata rantai berikut dari evolusi layang-layang, suatu pengembangan dari layang-layang daun. Persoalannya sekarang, di Asia Tenggara teru...

Omputo

Setelah Sugi Manuru, penyematan "sugi" untuk pemimpin tidak lagi dipakai. Anaknya, Lakilaponto, penerus kepemimpinan berikut, memakai istilah berbeda. Lakilaponto, raja yang pertama bergelar "omputo" artinya "Yang Dipertuan". Lakilaponto dii Muna bernama La Tolalaka, di Buton dipanggil Murhum, di Kerjaan Laiwoi bernama Lakilaponto. Ia orang pertama yang dipilih oleh dewan, yaitu keempat kamokula dan keempat mino. Ketua dewan dari keempat kamokula dan keempat mino adalah Kamokula Tongkuno. Beberapa waktu setelah menjadi Omputo Muna, ia diangkat menjadi Lakina Wolio. Jules Couvreur, seorang Belanda, dalam penelusurannya hingga melahirkan buku "Sejarah Kebudayaan dan Kerahaan Muna" mencatat Lakilaponto juga pernah memerintah Kerajaan Laiwoi. (*) Baca Juga Sugi Omputo Kino Wuna Kapitalao

Sketsa 80-an: Musik

Seniman tahun 80-an menyuguhkan kami segala jenis musik. Mulai dari seriosa, keroncong, gambus, pop, rock, dangdut, disko, jazz, bosas, blues, country, rege, balada, sampai kasidah. Semua genre itu ada artis-artisnyanya tersendiri. Kami jadi kenal jenis-jenis musik di dunia dan percampurannya. Telinga kami kaya dengan warna-warni aliran musik.  Tidak ada di zaman kami, karena pop laris manis lalu semua artis main di pop.  Tetapi masing-masing dengan warna musiknya berusaha memikat telinga pemirsa sekuat tenaga. Jadilah mereka punya penikmat setianya sendiri-sendiri. Bila kamu berjalan-jalan keliling kota tahun 80-an, kamu akan menemukan rumah ini putar lagu ini, rumah itu putar lagu itu, tidak semua rumah terdengar nyanyian yang sama.  Sesuai selera masing-masing saja. Tiap orang memutar lagu populer dari aliran musik kegemarannya yang rilis pada saat itu. Walau memang tidak kaku seperti satu orang satu genre. Ada orang yang menyukai beberapa aliran musik, namun ada satu ...