Taat Hukum Belum Tentu Baik

Cita-cita hukum adalah kebaikan. Kenyataannya, HUKUM dan KEBAIKAN ibarat dua sisi papan jungkit.

1. Berbuat Baik Bisa Saja Bertentangan dengan Hukum.

2. Berjalan Sesuai Aturan Hukum Belum Tentu Baik.

Berbuat Baik Bisa Saja Bertentangan dengan Hukum:

Seorang karyawan ingin punya rumah sendiri, tapi gajinya tidak memadai untuk memenuhi syarat yang diminta perbankan. Ia lalu meyakinkan bendahara dan atasannya agar gajinya di-mark up sehingga syarat perbankan terpenuhi. Akhirnya, ia punya rumah juga. Senangnya tak terhingga.

Dalam kacamata hukum, perbuatan atasan dan bendahara itu adalah pidana.

Berjalan Sesuai Aturan Hukum Belum Tentu Baik:

Polisi menangkap Fidelis Arie Susewarto karena kepemilikan ganja. Fidelis juga menanam pohon mariyuana ini di rumahnya. Dipakaikan ke istrinya pula. Kejahatannya berlapis-lapis.

Setelah diselami, Fidelis menanam tumbuhan dengan lama latin Cannabis untuk pengobatan istrinya.

Tahun-tahun berlalu, sudah segala cara ditempuh baik secara medis maupun magis, tapi istrinya tak berhenti meringis.

Lalu ia suatu hari tanpa resep dokter mencoba ganja dan istrinya merasa enakan. Harapan Fidelis sedikit cerah.

Tapi karena Fidelis ditangkap, asupan ganja terhenti dan si istri meninggal sebulan setelah Fidelis diterungku.

Di sini Fidelis melanggar hukum untuk mempertahankan nyawa, menopang kehidupan.

Polisi menangkap Fidelis karena melanggar hukum. Polisi sudah berada di jalurnya, agar Fidelis tidak merusak diri dan tewas karena narkoba, serta tidak membuat orang lain terjerat dan mati karena kecanduan napza. Tidak mati? Di sini ada yang mati karena penegakan hukum.

Begitulah, kadang-kadang berjalan sesuai hukum itu belum tentu baik.

Mungkin karena itu Tuhan membekali juga manusia dengan sifat arif dan bijaksana. Agar manusia tidak seperti robot. Hitam putih.

Hanya kearifan yang dapat membuat HUKUM bisa menyentuh KEBAIKAN. (*)